Sejarah dan Isi Kitab Negerakertagama dan Informasi Lengkap Lainnya

isi kitab Negarakertagama – Kitab Negarakertagama  atau yang juga disebut dengan Kakawin Negarakertagama  pada dasarnya memiliki judul asli Desawarnana. Siapa Pengarang Kitab ini? Kitab Negarakertagama  tersebut ditulis oleh Mpu Prapanca, yang menjadi sumber sejarah yang begitu dipercaya.

Kitab Negarakertagama  ini sendiri ditulis pada masa kerajaan Majapahit masih berdiri dibawah pemerintahan Sri Rajasanagara, atau yang biasanya juga dikenal dengan nama Hayam Wuruk. Kitab Negarakertagama  ini menceritakan mengenai banyak hal yang memiliki peranan penting, diantaranya adalah istilah raja – raja Majapahit, keadaan kota Raja, upacara Sradha, Candi Makam Raja, wilayah kerajaan Majapahit, negara – negara bawahan Majapahit, dan hal – hal yang lainnya.

Dari uraian dalam kitab Negarakertagama  inilah kita bisa tahu asal usul kerajaan Majapahit dari pandangan sosial, budaya, ekonomi, politik luar negeri, dan juga dari sisi lainnya yang lebih mendalam lagi. Penelitian tentang keberadaannya kerajaan Majapahit sendiri bisa juga ditunjang pada prasasti – prasasti pendukung diantaranya adalah prasasti Bendasari, prasasti Waringin Pitu, prasasti Kudadu, prasasti Trawulan, dan prasasti – prasasti yang lainnya.

Arti Nama Kitab Negarakertagama

Kakawin Negarakertagama

Nama kitab Negarakertagama  atau Kakawin Negarakertagama  ini adalah memiliki artian sebagai negara dengan tradisi (agama) yang suci. Nama Negarakertagama  sendiri tidak ditemukan dalam Kakawin Negarakertagama . Setidaknya ada pada pupuh 94/2, Prapanca menyebutkan bahwa ciptaannya Dewacawarnana atau pun uraian tentang desa – desa. Akan tetapi nama yang telah diberikan oleh pengarangnya itu terbukti sudah dilupakan banyak orang.

Sampai saat ini Kakawin Negarakertagama  terserbut biasanya disebut sebagai Negarakertagama . Nama dari kata Negarakertagama  sendiri ada pada kolofon yang diterbitkan oleh dr. J. L. A Brandes Iti Negarakertagama  Samapta. Ternyata nama dari kata Negarakertagama  ini adalah tambahan dari penyalin Arthapamasah di bulan Kartika di tahun Saka 1662, tepatnya pada tanggal 20 Oktober 1740 Masehi. Negarakertagama  sendiri disalin dengan huruf Bali pada Kancana.

Selain hal itu, juga penting pula untuk diketahui bahwasannya dalam naskah kitab Negarakertagama  ini selesai ditulis di bulan Aswina tahun Saka 1287, yang mana kala itu bertepatan dengan bulan September – Oktober 1365 Masehi.

Penulisan kitab atau Kakawin Negarakertagama  tersebut menggunakan nama Prapanca sebagai nama samarannya, berdasarkan hasil dari penelitian kesejarahan yang sudah dilakukan, diketahui bahwasannya penulisan dari naskah pada kitab Negarakertagama  ini adalah Dang Acarya Nadendra, yang merupakan salah seorang mantan petinggi urusan agama Buddha di istana Majapahit.

Dang Acarya Nadendra adalah salah seorang putra dari seorang pejabat istana dari kerajaan Majapahit, dengan jabatan Dharmadyaksa Kasogatan. Ia selesaikan naskah kitab Negarakertagama  tersebut di usia senja dalam pertapaannya di sebuah lereng pegunungan yang ada di sebuah desa yang bernama Kamalasana. Hingga kini biasanya diketahui pujangga, yakni Mpu Prapanca, seorang yang menulis naskah kitab Negarakertagama .

Sejarah Kitab Negarakertagama

empu prapañca

Kitab Negarakertagama , atau yang juga disebut dengan Kakawin Negarakertagama  seperti yang sudah kami bahas di awal memiliki judul asli Desawamana. Yang mana kitab ini ditulis oleh Mpu Prapanca, yang merupakan sumber sejarah yang dulu sangat dipercaya.

Kitab Negarakertagama  sendiri ditulis di masa kerajaan Majapahit masih berdiri dibawah pemerintahan Sri Rajasanagara, atau yang biasanya dikenal juga dengan nama Hayam Wuruk. Kitab Negarakertagama  tersebut juga menceritakan ada banyak hal – hal yang memiliki peranan penting yang diantaranya tentang istilah raja – raja Majapahit, Candi Makam Raja, keadaan kota Raja, upacara Sradha, negara – negara yang ada dibawah kerajaan Majapahit, wilayah kerajaan Majapahit, dan hal – hal lainnya.

Dari uraian kitab Negarakertagama  tersebut kita bisa tahu tentang asal usul kerajaan Majapahit lebih lengkapnya, baik itu dari pandangan ekonomi, sosial, budaya, politik luar negeri, dan dari sisi yang lainnya. Penelitian tentang keberadaannya kerajaan Majapahit sendiri juga bisa ditunjang pula pada prasasti – prasasti pendukung, seperti yang telah kami sebutkan di awal.

Penting juga untuk diketahui bahwa teks dalam kitab Negarakertagama  ini semulanya dikira hanya terwariskan dalam sebuah naskah tunggal saja, yang kala itu disematkan oleh J. L. A. Brandes. J. L. A. Brandes sendiri merupakan salah seorang hali sastra Jawa Belanda, yang kemudian ikut menyerbu istana raja Lombok tepatnya pada tahun 1894.

Pada saat penyerbuan ini dilaksanakan, para tentara KNIL membakar sebuah istana dan Brandes selamatkan semua isi perpustakaan raja yang berisikan ratusan naskah lontar. Salah satunya adalah lontar atau pun kitab Negarakertagama  ini. Semua naskah dari Lombok ini biasanya dikenal dengan nama lontar – lontar koleksi Lombok yang kala itu sangat termasyhur. Koleksi Lombok kemudian disimpan dengan baik di dalam perpustakaan Universitas Leioden Belanda.

Naskah kitab Negarakertagama  ini sendiri kemudian disimpan dengan baik di Leiden, kemudian juga diberi nomor kode L Or 5.023. Setelah itu ada kunjungan ratu Juliana, Belanda ke Indonesia di tahun 1973, yang mana naskah ini kemudian diserahkan kepada republik Indonesia.

Konon naskah dalam kitab Negarakertagama  tersebut langsung disimpan oleh ibu Tien Soeharto di rumahnya, akan tetapi hal tersebut ternyata tidaklah benar. Naskah kitab Negarakertagama  disimpan dengan baik di sebuah perpustakaan Nasional Republik Indonesia dan diberi kode NB 9. Kakawin Negarakertagama  atau syair Negarakertagama  di tahun 2008 silam diakui sebagai salah satu bagian yang ada dalam daftar ingatan dunia atau memory of the world programme oleh UNESCO.

Dalam kitab Negarakertagama , yang telah ditetapkan UNESCO sebagai warisan ingatan dunia tersebut ada sebuah kutipan, yakni Lombok Mirah Sasak Adi. Lombok artinya lurus atau pun jujur, mirah sendiri artinya permata, sedangkan sasak memiliki arti sebagai kenyataan, dan adi artinya baik. Jadi secara keseluruhan kutipan tersebut berarti sebagai kejujuran merupakan permata kenyataan yang baik dan utama. Sehingga nama dari Pulau Lombok yang kita kenal saat ini diambil dari salah satu kutipan yang ada dalam kitab Negarakertagama .

Falsafah Lombok mirah sasak adi ini dipercaya sebagai cita – cira leluhur dan harus dilestarikan anak cucunya. Hingga sekarang, falsafah tersebut jadi pandangan hidup serta nilai – nilai tradisi yang akan menuntun ke arah kehidupan yang jauh lebih baik lagi bagi masyarakat Suku Sasak.

Isi Kitab Negarakertagama

Isi Kitab Negarakertagama

Kitab Negarakertagama  ini menceritakan mengenai bagaimana keadaan yang tengah terjadi di keraton, atau kerajaan Majapahit di masa pemerintahan Prabu Hayam Wuruk. Ia adalah seorang raja yang agung di tanah Jawa dan juga di Nusantara.

Prabu Hayam Wuruk sendiri mulai bertahta sejak tahun 1350 sampai 1289 Masehi. Tepatnya pada saat puncak kejayaan kerajaan Majapahit, kerajaan tersebut jadi salah satu kerajaan paling besar yang pernah ada di negara Indonesia. Bagian yang paling penting dalam isi teks kitab Negarakertagama  ini adalah menguraikan daerah – daerah atau pun wilayah Majapahit yang harus menyetujui upeti.

Dalam teks kitab Negarakertagama  ditulis dalam bentuk Kakawin atau pun syair Jawa Kuno. Setiap Kakawin Negarakertagama  terdiri dari 4 baris, untuk setiap barisnya terdiri dari 8 sampai 24 suku kata yang disebut sebagai matra.

Naskah dari kitab Negarakertagama  ini terdiri dari 98 pupuh, dan dibagi juga menjadi 2 bagian yang masing – masingnya terdiri atas 49 pupuh. Kemudian di tiap – tiap pupuh terdiri dari 1 sampai dengan 10. Lalu jika dilihat dari segi sudut isinya pembagian pupuh – pupuh ini sudah disusun dengan sangat rapi. Di bawah ini adalah beberapa bagian pertama pada 49 pupuh, yakni dari pupuh 1 sampai dengan 49, dengan rincian sebagai berikut.

  • 7 pupuh yang membahas tentang raja dan keluarganya yakni pupuh 1 – 7
  • 9 pupuh yang membahas tentang kota dan wilayah kerajaan Majapahit yakni pupuh 8 – 16
  • 23 pupuh yang membahas tentang perjalanan keliling Lumajang yakni pupuh 17 – 39
  • 10 pupuh yang membahas tentang silsilah raja di kerajaan Majapahit dari Kertarajasa Jayawardhana hingga Hayam Wuruk yakni pupuh 40 – 44

Kemudian untuk bagian yang kedua pada 49 pupuh, dari pupuh 50 sampai dengan 98 dengan rincian sebagai berikut ini.

  • 10 pupuh yang membahas mengenai perjalanan Hayam Wuruk yang lagi berburu di sebuah hutan bernama Nandawa yakni pupuh 50 – 59
  • 23 pupuh yang membahas mengenai oleh – oleh dari berbagai daerah yang dikunjungi, perhatian raja Hayam Wuruk pada leluhurnya berupa sebuah pesta Shrada, dan berita mengenai kematian Patih Gajah Mada yakni pupuh 60 – 82
  • 9 pupuh yang membahas mengenai upacara keagamaan berkala yang berulang kembali di setiap tahunnya di kerajaan Majapahit, yakni musyawarah, kirap, serta pesta tahunan yakni pupuh 83 – 91
  • 7 pupuh yang membahas tentang seorang pujangga yang setiap kepada rajanya yakni pupuh 92 – 98
kitab negarakertagama

Kitab Negarakertagama  ini berisikan sebuah syair yang sifatnya pujasastra. Ini artinya karya sastra yang berisi mengagung –agungkan raja dari kerajaan Majapahit, yakni Hayam Wuruk, dan kewibawaan dari kerajaan Majapahit. Kitab Negarakertagama  tersebut disusun murni dari kehendak seorang pujangga oleh Mpu Prapanca yang ingin ajukan bhakti kepada sang mahkota raja, dan juga berharap sang raja tersebut membalas budi kepadanya.

Naskah dari kitab Negarakertagama  ini disusun oleh Mpu Prapanca setelah ia pensiun dengan cara mengundurkan diri dari istana kerajaan Majapahit. Sebab bersifat pujasastra, pastinya hanya hal – hal yang baik saja yang dituliskan, beberapa hal yang kurang membantu bagi kewibawaan kerajaan Majapahit, meskipun mungkin hal tersebut diketahui oleh Mpu Prapanca sang pujangga.

Nama Prapanca sendiri merupakan nama samaran atau pun nama pena untuk sembunyikan identitas aslinya dari penulis sastra tersebut. Oleh sebab itu peristiwa Pasunda Bubat tidak ditulis dalam teks kitab Negarakertagama , meskipun hal tersebut merupakan peristiwa yang sangat bersejarah.

Hal ini tidak ditulis sebab menyakiti hati Hayam Wuruk, terlepas dari itu, kitab Negarakertagama  masih dianggap sebagai hal yang sangat berharga, sebab memberikan sejarah dan juga laporan langsung tentang kehidupan di masa pemerintahan kerajaan Majapahit. Selain kitab Negarakertagama , di bawah ini juga ada beberapa kitab kuno lainnya yang mencatat kehebatan Indonesia di masa lampau, diantaranya sebagai berikut.

Kitab Kuno yang Mencatat Kehebatan Indonesia Selain Kitab Negarakertagama

Kitab Negarakertagama

Kitab Sutasoma

Ini adalah sebuah Kakawin atau pun syair Jawa kuno yang digubah Mpu Tantular di zaman kerajaan Majapahit, dibawah kepemimpinan raja Hayam Wuruk. Kitab Sutasoma tersebut menceritakan mengenai perjalanan panjang salah seorang pangeran dari negeri Hastinapura, yakni Sutasoma untuk temukan makna hidup yang sebenarnya. Ketampanan Sutasoma dianggap setara dengan Arjuna, putra dari Pandu. Sang pangeran justru memilih hidup sebagai petapa untuk mencapai keutamaan hidup.

Semboyan negara Indonesia (Bhinneka Tunggal ika) ternyata diambil dari kitab yang ditulis di abad ke-14. Kakawin Sutasoma berisi banyak sekali pelajaran yang sangat berharga. Diantaranya adalah mengajarkan mengenai toleransi beragama, yang di era modern saat ini sudah mulai luntur.

Kitab Serat Centhini

Serat Centhini atau yang juga disebut dengan Tambangraras adalah karya sastra paling besar dalam kasusastran Jawa baru, yang membahas tentang tradisi, ilmu pengetahuan, dan banyak hal lainnya yang mana saat itu dikhawatirkan akan punah.

Raja Pakubuwana V lantas memiliki ide jitu untuk menghimpun semua budaya serta tradisi Jawa tersebut jadi sebuah serat yang berisikan tetembangan. Serat tersebut dikerjakan di pertengahan abad ke-18 sampai 19. Raja Pakubuwana yang ke-V dengan dibantu oleh 3 orang pujangga istana lalu merangkum hal tersebut supaya tetap terjaga kelestariannya. Serat Centhini saat ini sudah dibuat versi modernnya dan dalam bentuk novel trilogi, sehingga jauh lebih mudah dicerna.

Kitab Arjuna Wiwaha

Kitab Arjuna Wiwaha ini adalah karya sastra kuno yang konon disusun pada abad yang ke-11 Masehi oleh seorang Mpu yang bernama Kanwa. Mpu Kanwa menulis kitab Arjuna Wiwaha tersebut pada masa pemerintahan Prabu Airlangga yang menguasai Jawa Timur, sekitar tahun 1019 – 1042.

Karya sastra ini jadi bukti nyata majunya peradaban manusia di zaman dulu yang pada kenyataannya sudah mulai mengenai baca tulis walaupun sangat terbatas, yakni di kalangan tertentu saja. Kitab Arjuna Wiwaha ini berisikan syair mengenai perjuangan Arjuna, yang merupakan sebuah tokoh pewayangan yang sangat hebat sekali.

Arjuna dikisahkan di dalam kitab Arjuna Wiwaha tersebut tengah bertapa di sebuah gunung yang bernama gunung Mahameru. Arjuna kala itu diuji dewa dengan dikirimnya 7 bidadari yang sangat cantik.

Para bidadari cantik tersebut kemudian disuruh menggoda Arjuna, akan tetapi ia sama sekali tidak menggubrisnya. Arjuna kemudian disuruh melawan raksasa yang sedang mengamuk di khayangan. Setelah Arjuna berhasil taklukkan sang raksasa tersebut, Arjuna lantas diperbolehkan untuk mengawini 7 bidadari cantik tersebut tadi.

Kitab La Galigo

Kitab La Galigo ini adalah karya sastra terpanjang yang ada di dunia saat ini. Kitab La Galigo tersebut memuat sekitar 6 ribu halaman, 3 ribu baris teks, dan 12 ribu manuskrip folio. Panjang dari naskah pada kitab La Galigo tersebut membuat La Galigo begitu dikagumi dunia.

La Galigo dibuat sekitar abad yang ke-13 dan abad ke-15 Masehi oleh bangsa Bugis kuno. Adapun huruf yang dipergunakan dalam La Galigo masih menggunakan huruf lontara kuno yang tidak semua orang bisa membacanya dengan baik.

Karya sastra ini berisikan sajak mengenai penciptaan manusia dan juga mitos hebat yang masih diwarisi secara turun temurun. Konon, La Galigi dipercaya sudah ada sebelum epik Mahabarata ditulis di India. Sebagian besar dari manuskrip asli dari kitab La Galigo ini berhasil diselamatkan dan juga disimpan secara rapi di sebuah museum Leiden yang ada di Belanda.

Demikianlah informasi tentang sejarah dan isi kitab Negarakertagama  dan informasi lengkap lainnya. Semoga bermanfaat.