Informasi Lengkap Latar Belakang dan Isi Perjanjian Linggarjati

By | October 22, 2018

Isi Perjanjian Linggarjati – Kita pastinya masih ingat dengan kalimat pertama dalam pembukaan UUD 1945 Republik Indonesia seperti berikut, “Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan”.

Kalimat dalam pembukaan Undang – Undang Dasar 1945 tersebut menyiratkan bahwa, segala bentuk dari penjajahan adalah salah dan sangat tidak dibenarkan, sebab pada hakikatnya kemerdekaan merupakan milik siapa saja yang bernyawa di muka bumi, ini artinya tidak hanya milik manusia saja, akan tetapi juga hewan serta tumbuh – tumbuhan pun juga memiliki hak untuk merdeka.

Kemerdekaan memang sudah sepatutnya diterima oleh siapa saja, serta dilindungi dengan hukum yang ada. Jika melihat kilas balik perjuangan bangsa Indonesia pada saat memperjuangkan kemerdekaan yang pasti tidaklah semudah seperti membalikkan telapak tangan, atau bahkan setelah kemerdekaan tersebut berhasil didapatkan pun jalan untuk mempertahankannya ternyata tidak lebih mudah dibandingkan saat memperjuangkannya.

Penyebab Perjanjian Linggarjati oleh Kedatangan Sekutu

latar belakang perjanjian linggarjati

Pasca memproklamasikan kemerdekaan, tepatnya di tanggal 17 Agustus 1945 faktanya Indonesia masih belum bisa bernafas dengan lega. Sebab, tentara sekutu yang telah tergabung dalam “Allied Forced Netherlands East Indies (AFNEI)” telah memasuki Indonesia dengan tujuan tidak lain adalah untuk melucuti senjata para tentara Jepang, membebaskan interniran yang sudah ditahan oleh Jepang dan kemudian memulangkannya. Akan tetapi ternyata AFNEI tersebut membonceng “Netherlands Indies Civil Administration (NICA)” yang ingin kembali kuasai Indonesia serta menolak untuk mengakui kedaulatan Indonesia. Sementara itu dari pihak lain sendiri, Indonesia berusaha keras untuk bisa mendapatkan pengakuan kedaulatan dari Belanda.

Pihak sekutu sendiri yang punya status quo atas Indonesia setelah mundurnya Jepang ternyata juga telah bertanggung jawab dalam menyelesaikan konflik politik atau pun militer Asia. Makanya diplomat yang berasal dari Inggris, yakni Sir Archibald Clark Kerr mengundang pihak Indonesia juga Belanda untuk ikut berunding di Hooge Veluwe. Perundingan ini pun pada akhirnya berlangsung, akan tetapi gagal sebab tidak menghasilkan kesepakatan. Indonesia meminta kepada Belanda untuk mau mengakui kedaulatan Indonesia atas Sumatera, Jawa, dan Madura, namun yang terjadi malah Belanda hanya mengakui Jawa dan Madura saja.

Tepatnya di tahun 1946 bulan Agustus akhir, Lord Killearn menuju Indonesia atas perintah dari pemerintahan Inggris untuk selesaikan perundingan antara Indonesia dengan Belanda. Di tanggal 7 Oktober 1946, tepatnya di Konsultan Jenderal Inggris di Jakarta, perundingan tersebut berlangsung dan menghasilkan persetujuan gencatan senjata di tanggal 14 Oktober, serta melakukan perundingan yang lebih dikenal dengan nama perjanjian Linggarjati untuk selesaikan semua masalah diantara kedua belah pihak.

Maka dari itu, pada postingan kali ini kami akan membahas lebih lengkapnya tentang sejarah atau latar belakang juga isi dari perjanjian Linggarjati yang melibatkan pihak Indonesia dan juga Belanda, diantaranya sebagai berikut.

Latar Belakang Perjanjian Linggarjati

Latar Belakang Perjanjian Linggarjati

Perundingan Linggarjati ini diadakan dengan dilatarbelakangi oleh masuknya AFNEI yang dibarengi oleh NICA ke Indonesia. Hal tersebut dikarenakan Jepang telah menetapkan status quo di Indonesia sehingga sebabkan terjadinya konflik antara Indonesia dan Belanda, seperti halnya peristiwa 10 November di Surabaya. Pemerintahan Inggris yang selaku penanggung jawab telah berupaya untuk dapat menyelesaikan konflik politik dengan militer di Asia. Hingga pada akhirnya diplomat Inggris yang bernama Sir Archibald Clark Kerr mengundang Indonesia dengan Belanda untuk melakukan perundingan di Hooge Veluwe seperti yang sudah kami bahas di atas. Dalam perundingan tersebut para pemimpin negara menyadari bahwasannya untuk dapat menyelesaikan konflik yang terjadi dengan peperangan hanya akan menimbulkan korban dari kedua belah pihak.

Akan tetapi demikian, perundingan yang telah direncanakan tersebut gagal sebab Indonesia meminta Belanda untuk mengakui kedaulatan atas pulau Jawa, Sumatera, dan Madura, sementara itu Belanda sendiri hanya mau mengekui Indonesia atas Pulau Jawa dan Madura saja. Pada akhir bulan Agustus 1946, pemerintah Inggris mengirim Lord Killearn ke Indonesia untuk menyelesaikan perundingan tersebut. Tepatnya di tanggal 7 Oktober 1946 dibukalah perundingan antara Indonesia dengan Belanda yang dipimpin oleh Lord Killearn. Hasil dari perundingan ini menghasilkan gencatan senjata dan rencana untuk mengadakan perundingan yang lebih lanjut lagi.

Waktu dan Tempat Perjanjian Linggarjati

Waktu dan Tempat Perjanjian Linggarjati

Perjanjian Linggarjati bisa dikatakan sebagai perjanjian yang paling bersejarah antara Indonesia dengan Belanda yang pada akhirnya terlaksana. Perjanjian Linggarjati tersebut dilaksanakan tepatnya pada tanggal 11 November 1946 hingga 13 November 1946. Tempat pelaksanaan perundingan Linggarjati ini di Linggarjati, Cirebon. Walaupun dilaksanakan di tanggal tersebut, akan tetapi penanda tanganan perjanjian Linggarjati tersebut baru dilakukan pada tanggal 25 Maret 1947. Diwaktu senggang, para delegasi lakukan perbaikan terhadap isi – isi dari perjanjian supaya kedua belah pihak bisa menemui titik terang untuk menyetuji perjanjian tersebut.

Tokoh Perjanjian Linggarjati

isi perjanjian linggarjati

Ada beberapa tokoh penting yang ikut terlibat dalam perjanjian Linggarjati ini, baik itu dari pihak Indonesia, Belanda, atau pun dari pihak Inggris, selaku mediator atau penengah. Di bawah ini adalah beberapa nama – nama tokoh dalam perjanjian Linggarjati.

  • Pemerintah Indonesia yang diwakili oleh Sutan Syahrir, Susanto Tirtoprojo, Mohammad Roem, dan A. K. Gani.
  • Pemerintah Belanda yang diwakili oleh H. J. Van Mook, Wim Schermerhorn, F. De Boer, dan Max Van Pool.
  • Pemerintah Inggris selaku mediator atau penengah yang diwakili oleh Lord Killearn.

Isi perjanjian Linggarjati

Isi perjanjian Linggarjati

Dikarenakan terjadinya ketidak sepahaman antara Indonesia dengan Belanda, maka perjanjian Linggarjati ini baru ditanda tangani oleh Indonesia di tanggal 25 Maret 1947. Dimana perjanjian Linggarjati tersebut juga ditanda tangani oleh Belanda di waktu bersamaan pada saat upacara kenegaraan yang berlangsung di Istana Negara, Jakarta. Di bawah ini adalah isi dari perjanjian Linggarjati yang harus diketahui.

  • Belanda mau mengakui Republik Indonesia secara de facto dengan daerah kekuasan yang meliputi Sumatera, Madura, dan Jawa. Belanda sudah harus pergi tinggalkan daerah de facto tersebut, paling lambat tanggal 1 Januari 1949.
  • Belanda dengan Indonesia sudah sepakat untuk membentuk negara serikat dengan nama RIS (Negara Indonesia Serikat), yang terdiri dari RI, Timur Besar, dan Kalimantan. Pembentukan RIS ini akan dijadwalkan sebelum tanggal 1 Januari 1949.
  • Belanda dengan RIS telah sepakat untuk membentuk Uni Indonesia – Belanda dengan Ratu Belanda sebagai ketuanya.

Perjanjian Lingarjati tersebut ternyata memiliki dampak yang positif maupun negatif bagi negara Indonesia. Untuk dampak positifnya sendiri adalah Indonesia sebagai negara yang baru saja merdeka mendapat pengakuan secara de facto oleh Belanda. Sementara itu untuk dampak negatifnya, wilayah Indonesia pastinya akan menjadi semakin sempit, sebab Belanda tidak mengakui semua wilayah Indoensia. Belanda hanya mau mengakui wilayah Indonesia pada Pulau Sumatera, Madura, dan Jawa.

Pengesahan Perundingan Linggarjati

Pengesahan Perundingan Linggarjati

Tepatnya pada tanggal 25 Februari 1947 akhirnya KNIP mengesahkan perjanjian Lingarjati yang bertempatan di Istana Negara Jakarta. Persetujuan tersebut ditanda tangani pada tanggal 25 Maret 1947. Jika ditinjau lebih lanjut lagi, kekuasaan Republik Indonesia menjadi semakin sempit, akan tetapi jika dipandang dari segi politik Internasional kedudukan Republik Indonesia menjadi semakin bertambah kuat. Hal tersebut disebabkan karena pemerintahan Inggris, Amerika Serikat, juga beberapa negara – negara Arab sudah memberikan pengakuan terhadap kemerdekaan dan kedaulatan Republik Indonesia.

Persetujuan tersebut sangat sulit sekali terlaksana, sebab pihak Belanda sendiri menafsirkan lain. Bahkan dijadikan sebagai salah satu alasan oleh pihak Belanda untuk kemudian diadakannya Agresi Militer 1, di tanggal 21 Juli 1947. Bersamaan dengan Agresi Militer 1 yang dilakukan pihak Belanda, Republik Indonesia mengirimkan utusan ke sidang PBB dengan tujuan supaya posisi Indonesia di internasional menjadi semakin bertambah kuat. Utusan tersebut terdiri dari Sutan Syahrir, Sudjatmoko, Dr. Sumitro Djojohadikusumo, dan H. Agus Salim.

Hadirnya utusan tersebut terbilang cukup menarik perhatian peserta sidang PBB, oleh sebab itu Dewan Keamanan PBB memerintahkan supaya dilaksanakannya gencatan senjata dengan cara mengirimkan komisi jasa baik, yakni goodwill commission dengan beranggotakan 3 negara. Indonesia mengusulkan Australia, Belanda mengusulkan Belgia, dan kedua negara yang diusulkan tersebut menunjuk Amerika Serikat sebagai anggota ke-3. Frank Graham dari Amerika Serikat, Richard C. Kirby dari Australia, dan Paul Van Zeeland dari Belgia. Di Indonesia sendiri ke-3 anggota itu terkenal sekali dengan sebutan komisi 3 negara . Komisi ini pada akhirnya menjadi perantara dalam perundingan yang berikutnya.

Pro dan Kontra Perjanjian Linggarjati

Pro dan Kontra Perjanjian Linggarjati

Perlu untuk diketahui bahwa, pro dan kontra ini mewarnai naskah persetujuan perjanjian Linggarjati. Ada partai – partai politik yang telah menentang yakni PNI, ACOMA atau Angkatan Comunis muda, Partai Wanita, Partai Rakyat Jelata, Partai Rakyat Indonesia, dan Laskar Rakyat Jawa Barat. Sementara itu partai – partai yang mendukung adalah Perindo, Partai Buruh, PKI, BTI, Laskar Rakyat, Partai Katholik, dan Parkindo. Sedangkan Dewan Pusat Kongres Pemuda memilih untuk bersikap netral untuk menjaga persatuan organisasi – organisasi yang membentuknya.

Pemerintah telah mengubah kekuatan dalam KNIP dengan menggunakan kekuatan pendukung dari perjanjian Linggarjati menjadi lebih besar lagi. Dikeluarkannya peraturan pemerintah nomor 06 tahun 1946, yakni dimana isinya ada kaitannya dengan penambahan anggota KNIP yang telah ditentang keras oleh partai – partai penolakan perjanjian Linggarjati. Akan tetapi sidang pleno KNIP terus berlanjut hingga akhirnya menghasilkan 232 anggota baru KNIP, juga persetujuan dari perjanjian Linggarjati bisa diteruskan. Meskipun ada pro dan kontra pada perjanjian ini tetapi Indonesia akan tetap bersedia untuk menanda tangani dengan alasan sebagai berikut.

  • Bangsa Indoensia yakin bahwasannya jalan yang terbaik dan paling aman untuk tercapainya tujuan bangsa adalah dengan jalan damai.
  • Dukungan rasa simpati dari pihak internasional akan datang jika menempuh jalan damai.
  • Ada kesempatan untuk perkuat militer Indonesia yang masih terbilang lemah.
  • Untuk dapatkan pengakuan kedaulatan, maka jalan diplomasilah yang jadi pilihan paling tepatnya untuk dipilih.

Hubungan antara Indonesia dan Belanda tidak bertambah baik walaupun sudah ditanda tanganinya perjanjian Linggarjati. Tepatnya di tanggal 27 Mei 1947 Belanda melalui misi indeburg menyampaikan nota kepada pemerintah Indonesia yang harus dijawab dalam kurun waktu paling lama 2 minggu. Dimana isi nota tersebut sebagai berikut.

  • Pemerintah peralihah bersama harus dibentuk.
  • Mengadakan garis demiliterisasi.
  • Untuk bangun suatu pertahanan yang lebih modern dibutuhkan sebagian angkatan darat, laut, dan udara dari kerajaan Hindia Belanda ada di Indonesia.
  • Pelindungan kepentingan dalam maupun luaar negeri dilakukan dengan cara membentuk kepolisian.

Kemudian pemerintah Republik Indonesia menyampaikan nota balasannya di tanggal 8 Juni 1947, yang mana isi dari nota tersebut diantaranya sebagai berikut.

  • Meksipun tidak selaras dengan perjanjian Linggarjati, akan tetapi pemerintah Republik Indonesia menyetujui pembentukan Negara Indonesia Timur.
  • Keamanan dalam zona bebas militer diserahkan kepada polisi, dan pemerintah Republik Indonesia menyetujui demiliterisasi antara daerah demokrasi kedua pihak.
  • Pertahanan Republik Indonesia harus dilakukan oleh tentara nasional masing – masing, sehingga tidak perlu lagi adanya pertahanan bersama.

Akan tetapi nota balasan yang telah disampaikan oleh Sutan Syahrir tersebut dianggal terlalu lemah, sehingga mengakibatkan semakin banyaknya partai – partai dalam KNIP yang menetangnya. Hingga akhirnya kabinet Syahrir memilih untuk menyerahkan kembali mandatnya ke Presiden Soekarno.

Belanda Menyatakan Agresi Militer 1

kesimpulan perjanjian linggarjati

Pihak Belanda sendiri yang masih menafsirkan lain isi perjanjian Linggarjati mengadakan sebuah Agresi Militer 1 di tanggal 21 Juli 1947. Lalu pihak Indonesia mengirimkan Sutan Syahrir bersama dengan Dr. Sumitro Djojohadikusumo, Sudjatmoko, dan H. Agus Salim untuk datang ke sidang PBB atau Perserikatan Bangsa – Bangsa dengan harapan supaya posisi Indonesia menjadi semakin kuat di dunia internasional. Kehadiran wakil Indonesia ini jadi perbincangan peserta sidang PBB yang lain.

Dewan keamanan PBB memberi perintah supaya diberlakukan gencatan senjata dan mengirim komisi jasa, baik itu yang beranggotakan 3 negara atau di Indonesia yang biasanya dikenal dengan sebutan KTN atau Komisi Tiga Negara.

Mengetahui Dampak Perjanjian Linggarjati

makalah perjanjian linggarjati

Seperti yang sudah kami bahas di atas, bahwa ada beberapa dampak dari perjanjian Linggarjati, dimana dampak positifnya adalah pemerintah Indonesia mendapatkan pengakuan secara de facto dari pihak Belanda. Sementara itu dampak negatifnya sendiri adalah wilayah Indonesia menjadi semakin sempit, sebab yang diakui hanyalah Pulau Jawa, Sumatera, dan Madura saja. Sebelumnya juga terjadi pro dan kontra terkait perundingan Linggarjati ini. Beberapa partai nasional mengkritik pemerintah sebab mau menanda tangani perundingan tersebut dan menuding bahwasannya pemerintah Indonesia cukup lemah untuk mempertahankan kedaulatan negara Indonesia.

Akan tetapi pemerintah memberi alasan kenapa mau menyetuji isi dari perjanjian Linggarjati tersebut, yakni memilih cara damai untuk selesaikan konflik guna menghindari jatuhnya korban serta menarik simpati dunia internasional. Perdamaian gencatan sejata juga bisa memberikan peluang bagi pasukan militer Indonesia untuk lakukan berbagai hal diantaranya adalah konsolidasi.

Pengkhianatan dan Pelanggaran Perjanjian Linggarjati

Pelanggaran Perjanjian Linggarjati

Walaupun sudah disepakati, akan tetapi kemudian terjadilah pelanggaran terhadap perjanjian tersebut oleh pihak Belanda. Tepatnya di tanggal 20 Juli 1947, Gubernur Jenderal H. J. Van Mook pada akhirnya menyatakan bahwa Belanda tidak terikat lagi dengan perjanjian Linggarjati ini. Sementara itu di tanggal 21 Juli 1947, terjadilah Agresi Militer Belanda 1, yakni serangan dari tentara Belanda ke Indonesia.

Akibatnya konflik Indonesia dengan Belanda kembali memanas, hingga akhirnya konflik tersebut kembali diselesaikan melalui jalur perundingan, yakni perjanjian Renville. Walaupun demikian ada banyak hasil dari perjanjian Renville yang bisa dikatakan cukup merugikan pihak Indonesia.

Demikianlah informasi lengkap latar belakang dan isi perjanjian Linggarjati yang bisa kami bagikan. Semoga bermanfaat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.