Mengupas Tuntas Misteri Dibalik Patung Roro Jonggrang di Candi Prambanan

Patung Roro Jonggrang di Candi Prambanan – Candi Prambanan merupakan salah satu candi peninggalan umat Hindu di masa lalu. Candi Prambanan tersebut dibangun pada abad ke-9 masehi yang hingga kini masih berdiri tegak layaknya sebuah istana kerajaan kuno. Candi Prambanan kini bahkan menjadi salah satu candi kebanggaan bangsa Indonesia yang banyak dikunjungi oleh para pelancong.

Meskipun saat ini Candi Prambanan tersebut sudah menjadi objek wisata yang sering sekali dikunjungi, candi ini ternyata tidak terlepas dari cerita – cerita mistis yang tidak sedikit orang yang sudah mengetahuinya, sebagiannya lagi masih penasaran dengan berita – berita yang telah beredar. Salah satu cerita yang telah diketahui oleh banyak orang adalah kisah tentang pembangunan candi tersebut yang dibantu oleh jin sehingga hanya butuh waktu singkat untuk membangun candi yang megah ini.

Misteri Dibalik Patung Roro Jonggrang di Candi Prambanan

Patung Roro Jonggrang di Candi Prambanan

Patung Roro Jonggrang di Candi Prambanan ini merupakan salah satu dari cerita di masa lalu di Indonesia. Bukan hanya sekadar cerita belaka, peninggalan – peninggalan bekas kerajaan di masa lalu tersebut pun masih bisa ditemui saat ini. Seperti halnya dengan Candi Borobudur yang sudah sangat terkenal dan bahkan sempat menjadi salah satu keajaiban dunia. Ada pula Candi Prambanan yang punya legendanya sendiri. Pastinya masih ada banyak lagi peninggalan di masa lalu yang tersembunyi dan masih belum diketahui oleh banyak orang. Ini semua adalah kekayaan Indonesia yang tersembunyi.

Salah satunya adalah legenda patung Roro Jonggrang di Candi Prambanan yang cukup terkenal. Itu sebab Candi Prambanan juga sering sekali dikenal dengan nama Candi Roro Jonggrang. Tetapi apakah Anda tahu, bahwa sebetulnya nama asli kompleks candi tersebut di masa lalu adalah Siwagrha. Ini merupakan bahasa Sansekerta yang berarti “Rumah Siwa”. Namun walaupun dipersembahkan untuk ketiga dewa, tetap lebih diutamakan dalam candi tersebut adalah dewa Siwa. Bisa dilihat sendiri dari arca Siwa yang memiliki tinggi hingga 3 meter di dalam Candi Prambanan yang melebihi arca lainnya.

Dimana Letak Patung Roro Jonggrang Di Candi Prambanan ? Ini Fakta sebenarnya

Patung roro jonggrang di candi prambanan

Kompleks candi Hindu tersebut ada di Bokoharjo, tepatnya di kecamatan Prambanan, kabupaten Sleman, Yogyakarta, Jawa Tengah. Menurut sejarah, Candi Prambanan ini awal mulanya dibangun pada abad ke-9 masehi. Tujuan dibangunnya candi ini adalah untuk dipersembahkan kepada 3 dewa utama dalam agama Hindu, yakni dewa Brahma, Wishnu, dan Siwa.

Legenda Patung Roro Jonggrang Asli di Candi Prambanan

Patung roro jonggrang di candi prambanan

Roro Jonggrang biasanya juga disebut dengan nama “Lara Jonggrang”. Roro Jonggrang ini merupakan sebuah patung yang ada di kawasan Candi Prambanan. Roro Jonggrang sendiri memiliki arti “Gadis yang Ramping”. Legenda patung Roro Jonggrang di sebuah candi terkenal tersebut adalah kisah cinta seorang pangeran yang bernama “Bandung Bondowoso” kepada seorang puteri cantik yang bernama “Roro Jonggrang” yang kemudian berakhir sangat tragis.

Menurut cerita masyarakat, di masa lalu ada sebuah kerajaan di Jawa Tengah, yakni kerajaan Pengging yang sangat subur dan makmur, kerajaan ini dikuasai oleh Prabu Damar Maya yang memiliki seorang putera mahkota tampan bernama “Bandung Bondowoso”. Putera Prabu Damar Maya tersebut adalah seorang pangeran yang memiliki ilmu sakti dan gagah perkasa. Sementara itu di sebuah kerajaan Baka sendiri yang dipimpin oleh seorang raksasa pemakan manusia yang bernama Prabu Baka, ia dibantu oleh seorang patih yang bernama Gupala. Kerajaan Baka tersebut punya seorang puteri cantik jelita yang bernama “Roro Jonggrang”. Meskipun Roro Jonggrang merupakan puteri seorang raksasa, tetapi ia punya kecantikan yang sudah terkenal luas.

Antara kedua kerajaan tersebut pernah terjadi perebutan kekuasaan. Kerajaan Baka dipimpin Prabu Baka untuk melakukan penyerangan ke kerajaan Pengging yang pada akhirnya terjadilah pertempuran yang dahsyat. Raja kerajaan Pengging, yakni Prabu Damar Maya pun mengutus puteranya untuk menghentikan peperangan tersebut. Pada saat Bandung Bondowoso melawan Prabu Baka di peperangan, berkat kesaktian yang dimilikinya pada akhirnya Bandung Bondowoso berhasil membunuh Prabu Baka. Sementara itu patih kerajaan Baka melarikan diri dan kembali ke kerajaan. Ia melaporkan kematian sang raja kepada puteri Roro Jonggrang, sang puteri pun meratapi kepergian ayahnya.

Seiring dengan berjalannya waktu dan pertempuran, kerajaan Pengging berhasil taklukkan kerajaan Baka. Pada saat Bandung Bondowoso menyerbu dan masuk ke keraton Baka, ia kemudian bertemu dengan puteri Roro Jonggrang. Nah, pada saat itulah Bandung Bondowoso mulai terpesona akan kecantikan dari puteri Roro Jonggrang. Tapi sangat disayangkan sekali, cinta Bandung Bondowoso bertepuk sebelah tangan sebab lamarannya yang ditolak oleh sang puteri. Alasannya adalah karena Bandung Bondowoso yang telah membunuh ayahnya dan sudah menjajah kerajaannya. Namun Bandung Bondowoso tidak langsung menyerah begitu saja, ia terus memaksa dan membujuk sang puteri untuk mau menikah dengannya.

Hingga akhirnya sang puteri pun bersedia untuk menikah dengan Bandung Bondowoso, tetapi dengan 2 syarat yang sudah dibuatnya, yakni membuat sebuah sumur yang bernama Jalatunda dan membangun seribu candi dalam waktu semalam. Pemerintaan Roro Jonggrang yang mustahil ini ternyata disanggupi oleh Bandung Bondowoso. Setelah sumur tersebut jadi, sang puteri meminta Bandung Bondowoso untuk memasuki sumur tersebut dan memeriksa keadaan sumur. Namun setelah masuk ternyata sang puteri justri menimbun sumur Jalatunda. Walaupun pada akhirnya Bandung Bondowoso bisa keluar berkat kesaktiannya yang luar biasa, ia marah kepada sang puteri tapi kemarahannya tersebut meredah setelah sang puteri yang cantik jelita tersebut membujuk Bandung Bondowoso.

Syarat yang kedua harus disanggupi Bandung Bondowoso adalah membangun 1.000 candi dalam waktu semalam saja. Walaupun ini adalah hal yang sanagt mustahil untuk dilakukan, namun Bandung Bondowoso hampir berhasil menyelesaikannya karena dibantu oleh makhluk halus. Candi tersebut bisa saja selesai apabila Roro Jonggrang tidak kembali berbuat curang. Ketika Bandung Bondowoso sudah selesai membuat candi yang ke-999, mendengar kabar tersebut Roro Jonggrang langsung memerintah kepada dayang istana dan perempuan desa untuk menumbuk padi. Lalu gundukan jerami pun diperintahkannya untuk dibakar di sebelah sisi timur, agar makhluk halus mengira bahwasannya matahari sudah terbit.

Makhluk halus yang mengira pagi sudah tiba akhirnya jadi ketakutan dan kembali ke asalnya. Sehingga pembangunan candi yang ke-1.000 tidak selesai, hanya 999 candi saja yang selesai dibangunnya. Bandung Bondowoso pada akhirnya marah setelah tahu orang yang ia cintai ternyata berlaku curang, dan melakukan tipu daya supaya candi tersebut tidak selesai tepat pada waktunya. Oleh sebab itulah, Bandung Bondowoso akhirnya mengutuk sang puteri menjadi batu. Puteri pun menjadi batu atau arca terindah yang sekaligus menjadi candi yang ke-1.000.

Mitos Dibalik Patung Roro Jonggrang di Candi Prambanan

Patung roro jonggrang di candi prambanan

Candi Prambanan ini berada sekitar 17 kilometer dari timur laut kota Yogyakarta, atau sekitar 50 kilometer dari barat daya Surakarta, dan sekitar 120 kilometer dari selatan Semarang. Candi Prambanan menempati kompleks seluas 39.8 hektar dan punya 3 candi utama di halaman pertama, yakni Candi Brahma, Candi Wisnu, dan Candi Siwa. Candi Siwa ini ada di tengah, ukurannya cukup besar sekali dan sangat tinggi. Candi tersebut diapit oleh dua candi yang lain. Ini menandakan bahwa Candi Siwa adalah candi yang paling dipuja, dan merupakan aliran utama dari agama Hindu di Jawa pada waktu itu.

Pada setiap canti utama ada satu candi pendamping, yakni sapi nandini untuk Siwa, angsa untuk Brahma, dan juga garuda untuk Wisnu. Ketiga candi ini merupakan wahana atau pun tunggangan para dewa tersebut. Di samping itu, ada pula dua candi apit, empat candi sudut, dan empat candi kelir. Sebanyak 224 candi lainnya yang kebanyakan tidak utuh ditemukan di halaman kedua candi. Perlu untuk diketahui juga bahwa di dalam Candi Siwa ini ada empat buah ruangan. Ruangan yang paling utama berisikan arca Siwa, sementara itu tiga ruangan lagi berisikan arca Durga atau istri Siwa, Agastya, dan Ganesha. Kemudian di dalam Candi Wisnu sendiri hanya ada raca Winsu. Begitu pun di dalam Candi Brahma yang ada di sebelah selatan Candi Siwa, hanya ada ruangan yang berisi arca Brahma saja.

Diantara ketiga candi pendamping tersebut yang paling memikat adalah Candu Garuda yang letaknya ada di dekat Candi Wisnu. Candi ini menyimpan kisah mengenai sosok manusia setengah burung yang bernama “Garuda”. Garudang adalah burung mistik dalam mitologi Hindu – Budha yang berupa manusia bertubuh meas, dan bersyarap merah, memiliki wajah berwarna putih, berparuh, serta bersayap mirip sekali dengan burung elang. Garuda dalam perkembangannya jadi lambang Negara Kesatuan Republik Indonesia. Candi Prambanan punya relief candi yang menggambarkan kisah Ramayanan. Tepatnya di panggung terbuka yang ada di sisi barang Candi Prambanan sendiri, secara rutin digelar sebuah pementasan Sendratari Ramayanan Prambanan. Pentas tersebut biasanya banyak sekali diminati oleh para turis mancanegara.

Di Candi Prambanan ini juga ada relief pohon kalpatura, yang merupakan salah satu jenis pohon pengabul permintaan dalam mitologi Hindu. Keberadaan pohon tersebut membuat para ahli beranggapan bahwa masyarakat di abad yang ke-9 memang punya kearifan dalam mengelola lingkungan. Sejak tahun 1991, UNESCO telah menetapkan Candi Prambanan sebagai salah satu cagar budaya dunia. Candi tersebut punya fasilitas museum arkeologi, warnet, ruang audio visual, wartel, restoran, toko cideramata, hotel, taman rusa, dan taman bermain. Tidak bisa dipungkiri lagi bahwa kompleks Candi Prambanan merupakan kekayaan arkeologi dunia yang harus dilestarikan keberadaannya.

Keunikan lainnya dari Candi Prambanan adalah ada kaitannya dengan mitos Roro Jonggrang. Mitos tersebut menyebutkan bahwasannya Candi Prambanan hanya dibangun dalam satu malam saja. Ini merupakan salah satu bagian dari legenda puteri Roro Jonggrang dan Bandung Bondowoso. Dikisahkan di zaman dulu terjadi sebuah antara dua kerajaan di Jawa, yakni kerajaan Pengging dengan keraton Baka. Singkat cerita, peperangan dahsyat tersebut pada akhirnya dimenangkan oleh kerajaan Pengging setelah Bandung Bondowoso maju ke medan pertempuran dan kalahkan Prabu Baka. Hingga akhirnya Bandung Bondowoso bertemu dengan puteri cantik dari keraton Baka yang bernama Roro Jonggrang, untuk kemudian memintanya agar mau diperistri Bandung Bondowoso.

Roro Jonggrang mau diperistri oleh Bandung Bondowoso dengan dua syarat yang diberikannya. Tapi, karena menyadari usahanya gagal lagi sebab ulah Roro Jonggrang yang bermain curang, akhirnya Bandung Bondowoso murka berkat, ia langsung menguntuk sang puteri menjadi candi yang ke seribu. Dikisahkan, Roro Jonggrang pada akhirnya menjadi sebuah arca batu yang hingga kini masih ada. Tidak hanya mengutuk Roro Jonggrang saja, tetapi Bandung Bondowoso juga mengutuk perempuan – perempuan yang membantu membakar jerami menjadi perawan tuan.

Ciri-Ciri Arca Roro Jonggrang yang ada di Candi Prambanan

Patung roro jonggrang di candi prambanan

Arca Roro Jonggrang yang ada di Candi Prambanan ini sebetulnya merupakan arca Durga atau nama lengkapnya adalah Durgamahisasuramardhini. Entah bagaimana masyarakat di waktu itu bisa mengaitkannya, tetapi yang jelas arca Durga di Candi Prambanan tersebut memang satu – satunya arca perempuan yang jelas terlihat di kawasan candi. Diduga cerita patung Roro Jonggrang di Candi Prambanan tersebut di susun di era kesultanan Mataraman Islam. Arca Durga atau Durgmahisasuramardhini adalah gabungan dari kata Durga dengan Mahisa, Asura, dan juga Mardhini. Dewi Durga merupakan nama lain dari Parwati, seorang istri dewa Siwa dalam bentuk murkanya.

Lalu untuk Mahisa sendiri berartikan kerbau, Asura memiliki arti sebagai raksasa, sementara itu Mardhini berartikan menghancurkan atau pun membunuh. Jadi, Durgamahisasuramardhini berartikan Dewi Durga yang sedang membunuh raksasa yang ada di atas tubuh seekor kerbau. Durga adalah sosok dari dewi yang terkenal di India yang juga dipuja oleh banyaknya umat Hindu. Di India bahka Durga dipuja di saat musim gugur tiba, tepatnya di pertengahan kedua pada bulan Asvina di kawasan timur laut negara tersebut.

Sementara itu dalam metologi Hindu sendiri, Dewi Durga merupakan pembunuh Mahisa atau kerbau penjelmaan Asura atau raksasa musuh bagi para dewa. Dewi Durga memang ditugaskan untuk kalahkan Asura yang bisa menjelma menjadi berbagai macam bentuk, termasuk halnya bentuk raksasa kecil yang ada pada arca Roro Jonggrang. Sebagai dewi yang digambarkan sedang berperang, Durga bawa senjata di delapan tangannya. Tangan bagian atas membawa cakra yang diberikan oleh Dewa Wisnu. Ia juga membawa pedang yang cukup panjang sekali serta busur panah dengan mata di panahnya tersebut. Lalu tangannya yang lain membawa pitaka atau perisai, dan cangkang kerang pemberian dari Dewa Wisnu. Dugra digambarkan dalam adegan kemenangan setelah berhasil kalahkan Asura yang berubah bentuk seperti kerbau berukuran sangat besar.

Tradisi pemujaan pada Durga hingga kini masih tetap bertahan dalam masyarakat Jawa. Bahkan setiap tahunnya, keraton Kasunanan Surakarta selalu menggelar upacara adat Mahesa Lawung, tepatnya di alas Krendhowahono di kecamatan Gondangrejo, kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Di sinilah para abdi dalem mempersembahkan sesajian di hadapan arca Durga atau Durgamahisasuramardhini yang ada di kawasan hutan tersebut. Upacara Mahesa Lawung biasanya akan dilaksanakan di setiap tahunnya, di hari ke-40 setelah acara Grebeg Maulud.

Ritual puncak dari upacara Mahesa Lawung ini merupakan penguburan potongan kepala kerbau di sebuah hutan yang bernama Krendowahono. Ini adalah salah satu bentuk dari pengingatan kemenangan Durga atas Mahisasura. Akan tetapi kini upacara Mahesa Lawaung tersebut menjadi simbol dari pemberantasan sifat – sifat buruk yang ada di dalam diri manusia, khususnya kebodohan. Diharap agar dengan mengorbankan kepala kerbau yang mewakili sifat – sifat buruk yang ada di dalam diri manusia tersebut tercipta keseimbangan alam dengan kehidupan manusia.

Demikian informasi yang bisa kami bagikan tentang misteri dibalik patung Roro Jonggrang di Candi Prambanan. Semoga bermanfaat.