Info Lengkap Peninggalan Kerajaan Sriwijaya, Salah Satunya Adalah Prasasti Telaga Batu

By | October 26, 2018

Peninggalan Kerajaan Sriwijaya – Perlu untuk diketahui bahwa, pada dasarnya peninggalan dari kerajaan Sriwijaya ini dicatat dalam sejarah Dinasti Tang, yang mana dikatakan bahawasannya pada abad yang ke-7 pantai Timur Sumatera Selatan sudah berdiri sebuah kerajaan yang bernama kerajaan Sriwijaya, atau She Li Fo She. Sumber tersebut didapatkan dari 6 buah prasasti yang ditemukan tersebar di Sumatera Selatan dan ada pula di Belitung dan Pulau Bangka. Dalam sumber asing juga disebutkan bahwa kerajaan Sriwijaya ini seperti dari prasasti ligor yang dibangun sejak tahun 775 masehi, sementara itu untuk prasasti nalanda sendiri dibangun di abad pertengahan ke-9, lalu ada prasasti tanjore di 1030 masehi di India.

Penafsiran Prasasti yang Harus Diketahui

Peninggalan Kerajaan Sriwijaya

Tulisan yang ada pada prasasti bisa dikatakan cukup panjang sekali, akan tetapi secara garis besar isinya mengenai kutukan terhadap siapa pun yang melakukan tindak kejahatan di kerajaan Sriwijaya, dan tidak taat atau patuh terhadap perintah raja. Casparis berpendapat bahwasannya orang – orang yang disebut pada prasasti ini adalah mereka yang berkategori sangat berbahaya, dan bahkan berpotensi untuk melawan kepada kerajaan Sriwijaya sehingga perlu disumpah. Disebutkan bahwa orang – orang tersebut adalah putera raja, menteri, bupati, panglima, pembesar atau tokoh lokal terkemuka, bangsawan, raja bawahan, hakim, ketua pekerja atau buruh, pengawas pekerja rendah, ahli senjata, tentara, pejabat pengelola, karyawan toko, pengrajin, kapten kapal, peniaga, pelayan raja, dan budak raja.

Prasasti ini merupakan salah satu prasasti kutukan yang bisa dibilang paling lengkap, memuat nama – nama para pejabat pemerintahan. Beberapa sejarahwan beranggapan bahwa dengan adanya prasasti tersebut, maka diduga kuat sebagai pusat dari kerajaan Sriwijaya ini ada di Palembang dan para penjabat – penjabatnya yang disumpah itu pastinya bertempat tinggal di ibukota kerajaan. Sementara itu Soekmono berpendapat lain berdasarkan prasasti ini, bahwa tidak mungkin kerajaan Sriwijaya ada di Palembang sebab adanya keterangan ancaman kutukan kepada siapa saja yang durhaka kepada kerajaan, serta mengajukan usulan minanga seperti yang telah disebutkan pada prasasti kedukan bukit yang telah diasumsikan ada di sekitar candi muara tikus sebagai ibukota Sriwijaya.

Peninggalan Kerajaan Sriwijaya

Peninggalan Kerajaan Sriwijaya

Sekitar tahun 425, agama Buddha memang sudah dikenalkan di kerajaan Sriwijaya, dan bahkan sudah ada banyak sekali para peziarah dan peneliti dari berbagai negara di Asia, seperti halnya pendeta asal Tiongkok yang bernama I Ching. Yang mana kala itu I Ching berkunjung ke Sumatera dalam perjalanan study ke Universitas Nalanda. I Ching menulis jika kerajaan Sriwijaya menjadi rumah bagi banyaknya sarjana Buddha. Di bawah ini akan kami bagikan ulasan tentang peninggalan – peninggalan kerajaan Sriwijaya secara lengkap, salah satunya adalah prasasti telaga batu.

1. Prasasti telaga batu

Peninggalan Kerajaan Sriwijaya

Peninggalan kerajaan Sriwijaya yang akan kami bahas pertama ini adalah prasasti telaga batu. Prasasti telaga batu tersebut ditemukan di sebuah kolam telaga biru yang ada di kelurahan 3 Ilir, kecapatan Ilir Timur II, Palembang di tahun 1935. Pada prasasti telaga batu ini berisikan mengenai kutukan bagi mereka yang berbuat jahat di kerjaan Sriwijaya dan kini telah disimpan di Museum Nasional Jakarta. Di sekitar tempat penemuan prasasti telaga batu tersebut ternyata juga ditemukannya prasasti telaga batu 2. Prasasti telaga batu 2 ini menceritakan mengenai keberadannya sebuah vihara dan di tahun sebelumnya juga ditemukan 30 buah prasasti siddhayatra. Prasasti telaga batu ini dipahat di bebatuan andesit dan memiliki tinggi sekitar 118 cm dan lebar 148 cm.

Di bagian atas prasasti telaga batu terdapat hiasan 7 buah kepala ular kobra dan di bagian tengahnya sendiri ada pancuran tempat mengalirnya air pembasuh. Tulisan yang ada pada prasasti telaga batu tersebut punya 28 baris dengan huruf Pallawa dan menggunakan bahasa Melayu Kuno. Secara garis besarnya, isi dari tulisan pada prasasti ini adalah mengenai kutukan bagi mereka yang berbuat kejahatan di kerajaan Sriwijaya dan tidak mematuhi perintah dari raja.

Prasasti telaga bagi ini bahkan menjadi salah satu prasasti kutukan paling lengkap, dibandingkan dengan prasasti dari peninggalan kerajaan Sriwijaya yang lainnya. Alasannya adalah karena dituliskan nama – nama pejabat pemerintahan dan menurut dugaan beberapa para ahli sejarah bahwa orang yang tertulis di dalam prasasti telaga batu ini juga tinggal di Palembang yang menjadi ibukota kerajaan. Sementara itu Soekmono sendiri beranggapan bahwa  tidak mungkin kerajaan Sriwijaya asalnya dari Palembang, karena adanya kutukan tersebut.

2. Prasasti kota kapur

Peninggalan Kerajaan Sriwijaya

Selanjutnya ada prasasti kota kapur yang ditemukan di Pulau Bangka bagian barat. Pada prasasti ini ditulis dengan menggunakan bahasa Melayu Kuno dan aksara Pallawa. Prasasti tersebut ditemukan J. K. Van Der Meulen di tahun 1892 dengan isi yang menceritakan mengenai kutukan bagi orang – orang yang berani melanggar titah atau pun perintah dari kekuasaan raja Sriwijaya. Prasasti tersebut lalu diteliti oleh H. Kern yang merupakan seorang ahli epigrafi asal Belanda yang bekerja di Batavia, yakni Bataviaasch Genootschap.

Awalnya ia menganggap bahwa kerajaan Sriwijaya ini adalah nama dari seorang raja. George Coedes kemudian mengungkapkan bila Sriwijaya adalah nama kerajaan yang ada di Sumatera di abad yang ke-7 masehi. Kerajaan Sriwijaya ini merupakan salah satu kerajaan terkuat dan pernah berkuasa di bagian barat nusantara, Semenanjung Malaya, dan Thailand di bagian selatan. Hingga tahun 2012 silam, prasasti tersebut masih ada di Rijksmuseum. Dari prasasti ini pula kerajaan Sriwijaya diketahui sudah berkuasa atas sebagian wilayah di Sumatera, Pulau Bangka, Lampung, dan Belitung. Dalam prasasti tersebut juga dikatakan bila Sri Jayasana sudah lakukan ekspedisi militer, yakni untuk hukum Bhumi Jawa yang tidak mau tunduk terhadap kerajaan Sriwijaya. Peristiwa ini terjadi bersamaan dengan runtuhnya Taruma dan Kalingga.

3. Prasasti ligor

Peninggalan Kerajaan Sriwijaya

Lalu, untuk prasasti ligor ini sendiri ditemukan di Nakhon Si Thammarat, tepatnya di wilayah Thailand bagian Selatan yang punya pahatan di kedua sisinya. Di bagian sisi yang pertama diberi nama sebagai prasasti ligor A, sementara itu di sisi satunya lagi adalah prasasti ligor B yang kemungkinan besarnya dibuat oleh raja dari wangsa Sailendra. Prasasti ligor A ini menceritakan mengenai raja Sriwijaya yang menjadi salah satu raja dari semua raja yang ada di dunia yang berhasil mendirikan Trisamaya Caitya untuk Kajara. Kemudian pada prasasti ligor B yang dilengkapi dengan adanya angka tahun 775 tersebut dan menggunakan aksara Kawi menceritakan mengenai nama Visnu yang punya galar Sri Maharaja dari keluarga Sailendravasma serta mendapat julukan Sesavvarimadavimathana, yang memiliki artian sebagai pembunuh musuh yang sombong hingga tidak tersisa.

4. Prasasti palas pasemah

Prasasti palas pasemah

Ada pula prasasti palas pasemah yang juga merupakan peninggalan dari kerajaan Sriwijaya. Prasasti tersebut ditemukan di pinggiran rawa desa Palas Pasemah, Lampung bagian Selatan. Prasasti palas pasemah ini ditulis dengan menggunakan bahasa Melayu Kuni dan aksara Pallawa. Isi pada prasasti tersebut menjelaskan mengenai kutukan dari orang – orang yang tidak mau tunduk terhadap kekuasan kerajaan Sriwijaya. Apabila dilihat lebih dalam lagi dari aksara, prasasti ini diduga asalnya dari abad ke-7 masehi.

5. Prasasti hujung langit

Peninggalan Kerajaan Sriwijaya

Ini adalah prasasti dari peninggalan kerajaan Sriwijaya yang ditemukan di desa Haur Kuning, Lampung. Prasasti tersebut ditulis dengan menggunakan bahasa Melayu Kuno dan akasara Pallawa. Isi yang ada pada prasasti hujung langit pada dasarnya memang tidak begitu jelas, karena kerusakan yang terjadi sudah cukup parah, akan tetapi diperkirakan asalnya dari tahun 997 masehi dan isinya mengenai pemberian tanah sima.

6. Prasasti kedukan bukit

Peninggalan Kerajaan Sriwijaya

Ditemukan pada tanggal 29 November 1920, prasasti tersebut ada di tepian sungai tatang yang mengalir ke sungai musi. Ditemukan oleh M. Batenburg, prasasti kedukan bukit ini memiliki ukuran sekitar 45 x 80 cm dan menggunakan bahasa Melayu Kuno dan akasa Pallawa. Isi dari prasasti kedukan bukit menceritakan mengenai seorang utusan kerajaan Sriwijaya, yakni Dapunta Hyang yang mana kala itu sedang mengadakan Sidhayarta atau perjalanan suci menggunakan perahu. Di dampingi oleh 2.000 pasukan dan berhasil menaklukkan beberapa daerah.

Pada baris ke-8, prasasti ini memiliki unsur tanggal, namun di bagian akhirnya sudah hilang yang semestinya diisi dengan bulan. Berdasarkan data fragmen prasasti nomor D. 161 tersebut diisi dengan nama bulan Asada, sehingga panggalan prasasti ini menjadi lengkap, yakni hari e-5 paro terang bilan Asada yang betepatan dengan tanggal 16 Juni tahun 682 masehi. Selain itu, dari prasasti ini juga didapatkan data yakni Dapunta Hyang yang berangkat dari Minanga kemudian menaklukkan kawasan dimana telah ditemukannya prasasti tersebut, yakni sungai musi.

Karena memiliki kemiripan bunyi, sehingga juga dianggap bila Minanga Tamwan adalah Mingakabau, yakni wilayah pegunungan yang ada di hulu sungai batanghari. Sebagiannya lagi berpendapat apabila Minanga tidak sama seperti Melayu serta kedua wilayah tersebut yang berhasil ditaklukkan oleh Dapunta Hyang. Sementara itu Soekmono sendiri beranggapan bila Minanga Tamwan berartikan sebuah pertempuan 2 sunga, karena tawan memiliki artian sebagai temuan yakni pertemuan antara sungai kampar kanan dan sungai kampar kiri yang masih satu wilayah di sekitar candi muara tikus.

7. Prasasti talang tuwo

Peninggalan Kerajaan Sriwijaya

Prasasti talang tuwo ini berisikan mengenai doa dedikasi yang menceritakan mengenai aliran Buddha yang digunakan di masa kerajaan Sriwijaya, yang mana kala itu adalah aliran Mahayana dan ini juga menjadi bukti bahwa dengan penggunaan kata khas aliran Buddha Mahayana seperti Bodhicitta, Vajrasarira, Mahasattva, dan Annuttarabhisamyaksamvodhi. Prasasti talang tuwo ini masih dalam keadaan sangat baik dan ditulis di bidang datar berukuran 50 x 80 cm, serta berangka 606 Saka dan berbahasa Melayu Kuno yang juga ditulis dengan menggunakan aksara Pallawa.

Prasasti talang tuwo memiliki sekitar 14 baris kalimat dan sarjana pertama yang sudah berhasil menerjemahkan prasasti ini adalah Van Ronkel dan Bosh. Prasasti tersebut kemudian disimpan di Museum Nasional Jakarta di tahun 1920. Prasasti ini menceritakan mengenai pembangunan sebuah taman oleh raja Sriwijaya yang bernama Sri Jayanasa yang dibuat khusus untuk rakyatnya di abad yang ke-7. Pada prasasti tersebut juga tertulis bila taman ada di tempat dengan pemandangan yang sangat indah dan lahan yang digunakan memiliki bukit serta lembah. Di bagian dasar lembah juga mengalir sebuah sungai yang menuju ke sungai musi. Taman ini diberi nama sebagai Taman Sriksetra yang juga ada di dalam prasasti.

8. Prasasti leiden

Peninggalan Kerajaan Sriwijaya

Prasasti leiden ternyata juga menjadi salah satu peninggalan paling bersejarah dari kerajaan Sriwijaya selain prasasti telaga batu. Prasasti tersebut ditulis di lempengan tembaga menggunakan bahasa Sansekerta dan Tamil, yang sekarang ini sudah diletakkan di Musem Belanda. Pada prasasti ini berisikan mengenai hubungan yang sangat baik dari dinasti Chola dari Tamil dan dinasti Sailendra dari kerajaan Sriwijaya, India Selatan.

9. Prasasti berahi

Peninggalan Kerajaan Sriwijaya

Ditemukan oleh Kontrolir L. M. Berhout di tahun 1904, prasasti berahi ini tidak jauh berbeda seperti pada prasasti telaga batu, kota kapur, dan lainnya, yang menjelaskan mengenai kutukan bagi mereka yang melakukan kejahatan dan tidak setia dengan raja Sriwijaya. Prasasti berahi tersebut tidak dilengkapi dengan tahun, namun bisa diidentifikasi menggunakan aksara Pallawa dan bahasa Melayu Kuno. Isi dari prasasti berani, peninggalan kerajaan Sriwijaya ini mengenai kutukan bagi orang – orang yang tidak setia dan tidak tunduk terhadap Driwijaya.

Pak Natsir memberikan pendapat bahwa prasasti berahi ditemukan di tempat yang letaknya cukup dekat sekali dengan struktur bata kuno yang saat ini digunakan sebagai lokasi pemakaman. Dari cerita di Batu Bersurat, dulunya prasasti berahi ini ditemukan cucu Temenggung Lakek di tahun 1727 yang kemudian dibawanya ke sebuah masjid yang bernama masjid Asybirin. Batu prasasti ini lalu dipindahkan ke kota Bangko dan ditempatkan di kantor residen yang sekarang digunakan sebagai kantor Dinas. Pada saat masa penjajahan Jepang, masyarakat di Karang Berahi meminta agar batu tersebut segera dikembalikan ke desa Karang Berahi, dan dikabulkan oleh Jepang.

10. Candi muara takus

Peninggalan Kerajaan Sriwijaya

Peninggalan kerajaan Sriwijaya yang berikutnya adalah candi muara takus. Candi ini ada di sebuah desa bernama Muara Takus, kecamatan XIII Koto, kabupaten Kampar, Riau. Candi tersebut dikelilingi oleh tembok berukuran 74 x 74 m yang dibuat dari batu putih dengan ketinggian sekitar 80 cm. Candi muara takus pada dasarnya sudah ada sejak zaman keemasan kerajaan Sriwijaya dan menjadi pusat pemerintahan kerajaan tersebut. Candi muara takus dibuat dari batu pasir, batu sungai, dan batu bata  yang berbeda dengan kebanyakan candi di Jawa yang umumnya dibuat dari batuan andesit.

Bahan utama pembuatan candi muara takus ini adalah tanah liat yang diambil langsung dari desa Pongkai. Dalam kompleks tersebut ada sebuah stupa yang berukuran sangat besar sekali dan berbentuk seperti menara yang mana sebagian besarnya dibuat dari batu bata dan batu pasir kuning dan di dalamnya ada bangunan candi, yakni candi tua, candi bungsu, palangka, dan stupa mahligai.

11. Candi muaro jambi

Peninggalan Kerajaan Sriwijaya

Kompleks candi ini adalah kompleks candi yang paling luas di Asia Tenggara, yakni seluas 3.981 hektar. Candi tersebut ada di kecamatan Maro Sebo, kabupaten Muaro Jambi. Kompleks candi muaro jambi ini pertama kalinya dilaporkan di tahun 1824 oleh Letnan Inggris yang bernama S. C. Crooke ketika melakukan pemetaan daerah aliran sungai untuk keperluan militer. Lalu sekitar tahun 1975an, pemerintah Indonesia lakukan pemugaran serius, dari aksara Jawa Kuno yang ada di beberapa lempengan juga ditemukan, Boechari adalah seorang pakar epigrafi menyimpulkan bahwa candi tersebut adalah peninggalan dari abad ke-9 hingga 12 masehi. Selain candi muaro jambi, ada candi bahal dan gapura sriwijaya yang juga menjadi peninggalan kerajaan Sriwijaya yang paling bersejarah.

Demikian info lengkap peninggalan kerajaan Sriwijaya, salah satunya adalah prasasti telaga batu. Semoga bermanfaat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.